Trigger Penggerak Harga Saham

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Apakah sahabat seringkali dalam kondisi bingung dan kaget ketika harga saham yang dibeli bergerak liar? Jika bergeraknya naik tinggi sih biasanya kita akan sangat bahagia dan berasa kayak ketiban durian runtuh atau bahkan rasanya kayak ditembak pacar dambaan hati.

Tapi seringkali yang bikin kita melongo dan berasa kayak patah hati dan emosi diaduk-aduk adalah ketika saham yang kita beli tiba-tiba turun harganya hingga nyungsep dan bahkan sampai Auto Reject Bawah (ARB), rasanya itu kaya kesamber petir di siang bolong, bener nggak rasanya kaya gitu? 

Kalau sahabat belum merasakannya saya sangat bahagia sekali. Tapi, untuk sahabat yang sudah merasakannya, pasti bertanya-tanya kenapa sih koq tiba-tiba saham saya turun? Apa sih penyebabnya? Bagaimana mencegahnya supaya hal ini tidak terulang lagi kedepannya? Sehingga kita bisa antisipasi dari awal sebelum mengambil keputusan membeli suatu saham.

Berikut adalah trigger atau pemicu yang bisa menggerakkan harga saham:

  • Laporan keuangan perusahaan. Biasanya ketika laporan keuangan diumumkan, akan di respon berlebihan oleh investor. Untuk perusahaan yang EPS (Earning Per Share) atau laba per lembar sahamnya naik maka investor akan berbondong-bondong membelinya yang menyebabkan harga saham tersebut naik. Begitu juga sebaliknya, kalau EPS nya turun banyak maka investor akan menjual sahamnya yang menyebabkan harganya turun.
  • Manipulasi laporan keuangan. Masih jelas teringat di kepala kita bagaimana AISA memanipulasi laporan keuangannya yang menyebabkan sahamnya di suspend oleh BEI. Manipulasi laporan keuangan jelas sekali menunjukkan manajemen yang tidak amanah dan ingin membohongi kepercayaan yang diberikan oleh publik selaku pemegang saham perusahaan tersebut.
  • Skandal atau Issue yang menimpa perusahaan, pemilik atau manajemen perusahaan. Misalnya tertangkapnya manajemen karena kejadian korupsi atau menyuap pejabat publik, perusahaan yang kena teguran OJK karena pengumpulan dana tidak resmi, demo masyarakat karena perusahaan mencemari lingkungan, dan lain sebagainya. Skandal dan issue yang negatif tentunya akan membuat harga suatu saham melorot drastis.
  • Aksi korporasi perusahaan, seperti: right issue, stock split, restrukturisasi, merger atau buyback saham juga sangat mempengaruhi pergerakan harga suatu saham. Perusahaan yang akan dibeli oleh perusahaan lainnya, akan meningkatkan harga saham yang dimilikinya. 
  • Jadwal pembagian dividen. Biasanya perusahaan yang menghasilkan laba akan membagikan laba yang diperolehnya dalam bentuk dividen. Tentunya hal ini akan direspon positif oleh investor dengan membeli saham perusahaan tersebut, karena investor berharap dapat mendapatkan dividen dalam waktu singkat. Jadwal pembagian dividen ini bisa dilihat di aplikasi RTI. Namun biasanya keesokan hari setelah cum date, harga saham bisa jatuh karena investor menjual sahamnya. Balik lagi dalam hal ini tujuan awal membeli memang untuk.mendapatkan dividen. Jadi, setelah selesai dapat dividen, investor berbondong-bondong menjual yang menyebabkan harganya turun.
  • Pengumuman data pertumbuhan ekonomi atau indikator ekonomi. Biasanya, ketika pemerintah mengumumkan data-data ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, cad, suku bunga BI, maka akan berimbas terhadap harga saham di BEI. Semakin bagus data-data ekonomi tersebut, maka semakin optimis investor membeli saham karena kalau data ekonomi bagus maka diharapkan perusahaan juga bisa beroperasi dengan baik dalam menghasilkan laba.
  • Kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah sangat mempengaruhi perusahaan dalam menjalankan usahanya. Contoh: penurunan harga gas yang menyebabkan harga saham PGAS turun, penurunan suku bunga BI yang menyebabkan harga saham perbankan turun karena margin bank juga akan turun kalau suku bunganya turun, kebijakan B100 yang bisa mengerek harga saham CPO, dan sebagainya.
  • Kondisi ekonomi global. Kita tahu bersama bahwa investasi asing di IHSG sangatlah besar, sehingga adanya kebijakan di Amerika, misalnya: penurunan atau kenaikan FED rate akan mempengaruhi harga saham di Indonesia. Trade war antara Amerika dan China juga menjadi ketidakpastian ekonomi global yang menyebabkan banyak investor mencairkan sahamnya dan lebih memilih memegang cash yang berimbas pada turunnya harga-harga saham.
  • Harga komoditas dunia. Untuk saham-saham komoditas seperti batubara, minyak, nickel, emas, cpo, dan sebagainya. Harga sahamnya sangat dipengaruhi oleh harga komoditas dunia, apabila harga komoditas dunia naik maka harga sahamnya juga cenderung naik, begitu juga sebaliknya.
  • Emiten masuk ke Indeks. Contohnya saham-saham yang masuk ke Indeks LQ45, MSCI, FTSE akan mempengaruhi pergerakan harganya. Ada yang masuk indeks harganya naik, namun tidak sedikit pula yang masuk indeks malah harganya turun.
  • Pergerakan market maker. Kita tahu bersama bahwa di pasar modal selalu ada institusi atau pihak-pihak yang memiliki modal besar dan mampu menggerakkan harga saham. Jadi, jangan kaget kalau kondisi perusahaan bagus, tapi malah harganya turun. Mungkin saja hal ini disebabkan karena market maker sedang take profit karena banyak retail seperti kita sedang optimis membeli saham perusahaan tersebut.

Tentunya masih banyak trigger lainnya yang bisa menggerakkan harga saham yang sahabat miliki dan belum bisa semuanya dituliskan di sini. Menurut sahabat, trigger apa lagi yang bisa menggerakkan harga suatu saham? 

#EduVesting:SimpleEducation4SmartInvesting

Artikel Terkait :

  1. Istilah-Istilah Saham
  2. Berapa Target Investasi Saham yang Masuk Akal

More to explorer

Istilah-istilah Saham

Untuk sahabat yang baru terjun ke dunia saham dan belum terlalu paham dengan istilah-istilah saham yang pastinya sahabat belum pernah mendengar sebelumnya